DITUDUH RASIS KARENA KESAL OKNUM WARGA TAK KIBARKAN BENDERA, WALIKOTA SIBOLGA : SAYA MERAH PUTIH, ANTI RASIS! - Layar News

DITUDUH RASIS KARENA KESAL OKNUM WARGA TAK KIBARKAN BENDERA, WALIKOTA SIBOLGA : SAYA MERAH PUTIH, ANTI RASIS!

Share This

Kota Sibolga - Adanya sejumlah oknum warga yang tidak menaikkan bendera merah putih pada peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia di kota Sibolga yang memicu kekesalan Walikota Sibolga HM Syarfi Hutauruk, rupanya mendapat respon yang beragam dari warga.

Sebahagian besar warga mendukung "kesalnya" Walikota Sibolga ini karena dianggap wajar bahkan harus demikian. Apalagi, himbauan mengibarkan sang merah putih pada bulan Agustus setiap tahunnya bukanlah semata-mata keinginan Walikota Sibolga sebagai kepala daerah akan tetapi sudah berdasarkan amanah dari pemerintah pusat dan juga gubernur Sumatera Utara.

Meskipun maksud dari himbauan pemerintah tersebut adalah baik dalam rangka menumbuh-kembangkan jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia, akan tetapi tetap saja ada sejumlah oknum yang berpandangan berbeda. Kekesalan Walikota Sibolga terkait ulah para oknum yang enggan mengibarkan sang merah putih sepanjang bulan Agustus justru dianggap "rasis" oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Menaggapi hal tersebut, orang nomor satu di Sibolga ini mengatakan bahwa adalah tugas dan kewajibannya sebagai kepala daerah menjalankan perintah pusat dan gubernur. Kata Syarfi. Mengibarkan bendera merah putih disetiap rumah/ kantor/ tempat usaha dan gedung-gedung lainnya sejak tanggal 1 sampai dengan 31 Agustus 2019 dalam rangka memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI adalah perintah pemerintah pusat dan gubernur. Selaku Walikota, dirinya pun menindaklanjuti hal edaran tersebut dengan mengeluarkan surat edaran kepada warga dengan maksud dan tujuan yang sama.

Bahkan, kata Syarfi. untuk memastikan warga Sibolga menjalankan himbauan tersebut, dirinya secara langsung melakukan monitoring berkeliling Kota Sibolga.

"Rasa sedih, kesah dan marah muncul dari hati sanubari saya begitu melihat ada rumah/ kantor dan tempat usaha yang notabenenya warga saya, tidak menaikkan bendera sebagaimana himbauan tersebut," terang pria bernama lengkap Drs.H.M Syarfi Hutauruk MM, ini.



Padahal, lanjut Syarfi. Sebagai warga negara Indonesia, warga hanya diminta menaikkan bendera untuk memperingati kemerdekaan negerinya sendiri. Dan menurutnya hal itu bukanlah sesuau yang sangat sulit.

"Para pahlawan terdahulu yang terdiri dari lintas agama, suku dan etnis, yang juga sebahagian besar adalah para ulama, mengorbankan darah, air mata, jiwa dan raganya untuk kemerdekaan negeri ini. Ini hanya diminta menaikkan bendera (saja) tidak dilakukan," katanya tegas.

"Selaku kepala daerah di Kota Sibolga, apakah kekesalan dan kemarahan saya atas warga yang berbuat demikian berlebihan?" tanya Syarfi dengan ekspresi wajah kecewa.

"Kebetulan saat saya berkeliling untuk mengecek kepatuhan warga atas himbauan menaikkan bendera merah putih disebuah kelurahan yang didominasi saudara-saudara kita etnis thionghua, banyak rumah/tempat usaha yang tidak menaikkan  bendera. Lalu beberapa pihak menuduh saya rasih menyikapi hal tersebut. Saya tegaskan. Siapa pun yang bersikap demikian, yang tinggal di wilayah NKRI, terlebiih diwilayah kerja Pemko Sibolga, jika tidak menaikkan bendera merah putih dalam menyambut hari bersejarah kemerdekaan NKRI ini, saya pastikan saya kesal dan marah kepada orang tersebut," tegasnya kembali.

"Kekesalan saya bukan pada etnis/ suku/ agama atau SARA. Kekesalan saya pada stiap orang yang  bersikap demikian, tidak ada hubungannya dengan persoalan SARA," beber pria yang berkali-kali mendapat penghargaan dari Pemerintah Pusat ini.

"Jangan saya dituduh rasis atau menyulut kemarahan pada etnis tertentu. Saya ini kader bangsa. Saya mantan aktivis HMI, saya juga mantan aktivis DPP KNPI, saya sudah mengikuti pelatihan Tarpadnas (Penataran Kewaspadaan Nasional) dan Suspadnas (Kursus Kewaspadaan Nasional), serta berbagai kegiatan  bela negara tingkat nasional lainnya saya ikuti. Jangan diplintir kekesalan dan kemarahan saya kepada pihak-pihak yang enggan menaikkan  bendera dalam rangka Hari Kemerdekaan RI (tersebut) dengan tuduhan rasis. Saya (ini) merah putih dan (saya) anti rasis."pungkas Walikota Sibolga ini.

Sebelumnya diberitakan bahwa Walikota Sibolga mengaku kesal atas ulah sejumlah oknum warga Kota Sibolga yang enggan mengibarkan sang merah putih selama bulan Agustus tahun 2019. Padahal himbauan berupa edaran telah disampaikan kepada setiap warga, akan tetapi respon warga atas edaran tersebut sangat minim khususnya di Kelurahan Pasar Baru.

Ayah dari 3 orang anak ini pun telah memerintahkan camat, lurah dan kepling untuk mendatangi setiap warga yang tidak berkenan mengibarkan sang merah putih tersebut. Menurutnya, sebagai warga negara yang mencari penghidupan di Indonesia bahkan telah menikmati alam kemerdekaan ini, maka adalah sebuah keharusan untuk mensyukuri kemerdekaan ini dengan turut serta mensemarakkan HUT ke-74 Kemerdekaan RI dengan berpartisipasi mengibarkan sang merah putih didepan rumah, toko dan gedung masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Loading...

Pages